oleh : Mifta Khairoh (1164020097)
Komunikasi dan penyiaran Islam
Tidak terasa saya dan teman teman kpi 3 C telah memasuki semester tiga, satu tahun telah terlewati dengan usaha dan berkat doa orangtua yang tak pernah berhenti mendoakan bagi kesuksesan anak anaknya.
Setiap kepala memilki pemikiran maupun cita cita yang berbeda, itulah mengapa pentingnya saling menghargai dan membantu satu sama lain. pada umumnya jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam termasuk salah satu jurusan favorit di uin sgd bandung, para mahasiswa yang memiliki impian menjadi seseorang yang berkonstribusi dalam dunia islam, pers, kejurnalistikan dan publisti. menurut saya ini adalah alasan terutama mengapa mata kuliah jurnalisme dakwah harus dipelajari secara holistik oleh kami mengingat pentingnya penggabungan dunia jurnalistik dan pendakwahan
Banyak sekali kesan selama mata kuliah ini berlangsung, mulai dari ilmu yang runtun dan praktek langsung ke lapangan. Saya mengucapkan beribu terimakasih kepada Dr. Uwes Fatoni, M,ag selaku dosen pengampu mata kuliah ini, yang membagikan ilmunya kepada kami, beliau selalu memotivasi dengan selalu mendongkrak agar anak kpi banyak membaca, berdiskusi lalu menulis
kami belajar mengenai penulisan berita, setelah kami menulis berita buatan sendiri, saat mata kuliah berlangsung, berita yang telah dikerjakan di telaah dan diperbaiki apa yang belum sesuia dengan kaidah penulisan berita, menurut saya cara seperti itu efektif, mengingat otak seseorang akan lebih mudah mengingat jika sesuatu telah dikerjakan dan di perbaiki, itu akan menambah pengalaman dan rasa pengetahuan lebih mendalam para mahasiswa
saya juga banyak belajar mengenai pesurat kabaran media cetak, setiap minggunya kami diberi satu media untuk mengirim opini mahasiswa , ada kompas kampus, rubrik mahasiwa, poros mahasiswa , tergantung program dari media cetaknya sendiri, memberikan nama apa untuk kolom opini mahasiswa
saya senang sekali melihat teman teman yang tulisannya sudah di muat , mungkin tulisan saya belum memenuhi kriteria para editor kolom mahasiswa, namun saya tidak akan menyerah untuk menyematkan nama saya di kolom tersebut, saya juga ingin mengucapkan selamat kepada para teman teman yang sudah melalang buanakan tulisannya
setelah mumpuni dalam bidang penulisan surat kabar, kami belajar mengedit video ala zaman sekarang, dari dulu saya ingin sekali dapat mengedit video yang instagrammable dengan aplikasi filmmora itu menjadi kenyataan, tugas membuat video ala instagram oleh ustad, masjid yang telah kami tetapkan sendiri masjid mana yang akan kami jelajah
tugas rutin setiap minggunya ialah membuat berita mengenai masjid yang kami pilih sebelumnya,
banyak juga keluhan dari teman teman yang merasa tugas jurnalisme dakwah (jurdak) bannyak sekali , belum lagi mewawancarai ustad, namun saya menekankan pada diri saya, jika itu semua adalah sebuah proses yang harus dilalui untuk naik tingkat
kesan saya ketika membuat berita masjid adalah bingung karena ini adalah mewawancarai narasumber pertama kali , saya merasa bahwa mewawancrai seorang narasumber , tidak hanya modal keberanian saja, teori dan lapangan itu berbeda sekali, kita dituntut untuk dinamis,berpengetahuan serta menguasai teknik 5 W+1 H, itulah kunci berhasilnya seorang jurnalis
hafalan ayat ayat mengenai etika seorang jurnalis juga harus kami hafal , begitu kita tahu aturan dalam uu penyiaran tahun 2002 dan p3 sps , dalam perpektif al quran juga jangan dilupakan , banyak pesan pesan moral yang bisa diterapkan
pesan untuk perkuliahan jurnalisme dakwah tetaplah seperti ini , namuny ang harus diperhatikan adalah kualitas dati tugas itu sendiri, lebih baik kuantitasnya sedikit namun kuaitasnya baik , daripada kuantitas banyak namun kualitas tak sesuai (buruk)
tetaplah membaca, berdiskusi dan menulis , saya ingat kata petuah "tulisan akan mengalahkan sebuah pistol karena sebuah tulisan dapat menembak lebih dari satu kepala , dan mempengaruhi secara tidak sadar"
Beribu terimakasih sekali lagi saya haturkan kepada bapak Dr. Uwes Fatoni, M,ag , yang telah membuka mata kami lebar lebar mengenai dunia kejurnalistikan
Bandung, 27 Desember 2017