Perjalanan
Petang
Aku
senang berjalan tiap petang hari , ketika matahari ingin tenggelam , senja
sudah menyapa dari atas awan, serasa surga diatas kaki bukit , betapa indah
ciptaan Allah , pohon berdiri tanpa ada yang menyangga, langit dan awan papah
diatas, tanpa seorang pun yang menghambatnya , begitu benderangnya bintang
setiap malam hari ia bersinar tanpa seorangpun yang memberikannya arus listrik,
aku suka berjalan tiap sore hari mataku dapat melihat keindahan ciptaan Allah
yang maha agung
Ia terluntang lantung menjajalkan
jasanya sebagai tukang sol sepatu, setiap hari ia lalu Lalang mengitari desaku,
berharap seseorang memanggilnya dan memiliki masalah dengan sepatu mereka ,
bukan jahat atau berniat buruk pada seseorang , namun dari situlah pak sukarno
mengais rezekinya , para warga sering menyebutnya dengan nama sukarno , bukan
karena itu nama aslinya , melainkan karena hanya ia lah generasi masa
kemerdekaan yang masih hidup , umurnya telah menginjak 89 tahun dan tahun depan
ia genap memasuki kepala sembilan, alasan terbesar inilah mengapa warga desa
memangggilnya dengan nama sukarno
Ia tak memiliki sanak keluarga
satupun , mereka semua telah tutup usia di usia yang tidak terlampau tua , tiga
orang putranya tewas dalam insiden kecelakaan kereta manggarai tahun 2003
silam, sedangkan istrinya , sarinah ajeng , telah mendahului pergi
meninggalkannya , sakit tua yang sudah kronis merenggut umurnya , ia tutup usia
di pangkuan pak sukarno , sesaat setelah pak sukarno memandunya membacakan dua
kalimat syahadat.
Banyak dari warga desa yang iba
terhadapnya , melihat ketabahan hati pak sukarno , walau ia telah tua dan renta,
namun senyum yang melekat di wajahnya tak pernah pudar, setapak jalan ia kayuh
dengan sepeda ontel zaman 45 an, sepeda yang sudah sangat usang bentuknya , namun karena kemurnian hati yang ia miliki
, tak Nampak guratan kelelahan yang ia perlihatkan saat mengitari desa . Aku
bahkan tidak akan tahu alur cerita pak karno selanjutnya , apakah ia akan terus
tabah dengan keadaan atau malah
mencercah sisa kehidupan yang ia miliki, semua ada ditangannya.
Petang ini di atas kaki bukit, aku
menelaah sepenggal kisah dari sang generasi pejuang kemerdekaan , tak
seorangpun yang menyangka pak sukarno akan hidup melarat, hidup tua dan
sebatang kara.
Aku selalu mencercah nasib, mengapa
aku dilahirkan dengan keadaan orangtua yang sama sekali tidak peduli dengan
anaknya , ayah ku sibuk dengan urusan politik yang tak kunjung selesai ia jamahkan
, sedangkan ibuku , asik mengurusi bisnis tas nya yang serba mahal, seharusnya
aku harus lebih beryukur menelaah kehidupan , pak sukarno saja telaten
menjajalkan untaian benang pada sepatu pelanggannya , semuanya ia kerjakan
tanpa ada guratan ketidak ikhlasan dalam wajah lusuhnya
Aku masih terus mengitari bukit
sudah setengah jalan mataku asik jelalatan memandangi alam beserta seluruh
benda yang ada di hadapanku ,
Ia berbicara sesuka hatinya,
berbicara tak karuan, bajunya lusuh compang camping, rambutnya gimbal, ku
perkirakan sudah lama sekali ia tidak mencuci rambutnya, ia membenturkan
kepalanya di dinding perbatasan kampung ku , tampak stress sekali ia , aku
sempat bertanya dengan warga yang berada di sana , usut punya usut , dia
dahulunya seorang politikus handal yang memiliki usaha sampingan yang tak kalah
sukses , asset kekayaannya hingga berjumlah milyaran, namanya adalah wage ,
lelaki bertubuh berisi dengan perwatakan ala ala timur tengah , namun karena ia
menjadi seperti sekarang , orang yang mengenalnya dulu tak akan mengenali wage
yang sekarang , begitu drastis
perubahannya , mulai dari bentuk fisiknya hingga kewarasan jiwanya
Aku
menelan ludah mendengar cerita warga desa tadi , ternyata wage adalah lelaki
sukses dulunya, namun karena ia kurang bersyukur , ia tak henti hentinya
mencari sumber uang tak peduli dari mana asal uang tersebut, yang paling
penting ia dapat mengais uang sebanyak banyaknya , naas , ternyata ia terjerat
kasus pencucian uang , ditambah lagi investor bodong yang menggrogoti bisnisnya
Pikiranku
mengarah pada profesi ayahku , dia seorang politikus yang mondar mandir setiap
hari di kantor pemerintahan , setiap hari ia sibuk dengan dunianya, aku jadi
khawatir dengan keadaannya namun, aku mencoba bepikiran positif dengan ayahku,
ia tak mungkin bernasib sama layaknya wage, aku menjadi sadar, harus mengingatkan ia ketika dunianya telah habis
dengan urusan duniawi
Sudah dua orang yang memenuhi
benakku, melihat beragai macam manusia , namun perjalanan petang hari ini tidak
berhenti hanya sampai cerita sang politikus tersebut.
“Bunuh dia , Hancurkan” sahut pemuda
gagah yang tengah menggenggam senjata tajam, ia mengarahkan seorang temannya
untuk menyerang seorang gadis , tampak sangar wajah kedua pemuda itu ,
sementara sang gadis gelagap dengan wajahnya yang berlumur peluh, ia
sudahtampak Lelah sekali
“jangan beri ampun wahai pemuda kolot” pemuda
dengan senjata tersebut tampak sudah tidak karuan namun tampaknya ia akan mengarahkan senjata
itu bukan kepada wanita berwajah gelagap tadi , melainkan kepada pemuda yang
satu lagi , lelaki yang akan di bunuh tampak merencanakan siasat untuk
menyergap wanita itu , keadaan semakin memanas ,serasa perang dunia ketiga akan
tercipta ,
Aku
menelan ludah hanya bisa bersembunyi , tidak ada orang lain yang melihat tiga
orang yang saling bunuh membunuh, aku juga tidak tahu mengapa para kedua pemuda
itu saling bertikai , namun sangat disayangkan gadis malang yang menjadi korban
, aku mulai mencercah diri sendiri ,
ingin sekali mendinginkan suasana ketiga orang tersebut , aku tidak tega
melihat seorang gadis yang berbasib buruk itu , aku membayangkan jika ibukku
ada di posisi gadis tersebut , sejenak , aku ingin menampakkan diri dan
melakukan pembenaran
“mengapa engkau berdiam diri disana
, wahai anak muda?” tanya pemuda pemegang pistol tadi kepadku , nampaknya ia
juga ingin membunuhku seperti yang akan dilakukannya pada temannya , aku dengan
gelagat menghindar dan tak berkutat sedikit katapun , sepertinya perjalanan
petang ini berakhir di genggaman senjata pemuda kasar itu.
“tenanglah
wahai anak muda , kami hanya berlatih teater , semua adegan ini adalah
sandiwara” imbuh sang gadis yang dari tadi sudah aku khawatirkan nasibnya
Aku makin tak berkutat , sambil
melontarkan sedikit tawa , layaknya ketika menonton sinetron dalam televisi
terbawa emosi, walau ku tahu itu hanyalah sandiwara belaka
Lupakan
saja , kebodohanku ini , yang bertemu dengan para pemain panggung yang handal ,
walau hanya sebuah latihan drama panggung , aku menilai sandiwara mereka sudah
sepantaran dengan artis sinetron ibu kota , mulai dari mimik wajah dan talenta
yang mereka miliki , buktinya saja aku percaya pada mulanya , apalagi melihat
sang gadis yang benar benar akan berakhir hidupnya
Perjalanan petang ini menyirat
banyak pesan makna ,mulai dari pak
sukarno dengan ketabahannya , wage dengan keserakahannya dalam memiliki
harta , hingga tertipunya aku dengan drama
panggung yang ku fikir benar terjadi
Ketika
aku mengkaitkan ketiga kejadian tersebut , nampaknya kejadian terakhir yang
menampar fikiranku, sebabnya setelah menelaah dan merenungkan , aku jadi terhuyung dengan sandiwara yang
diperankan oleh ketiga orang tersebut ,
Hidup
di dunia bagaikan sebuah sandiwara panggung
kita bisa memilih apa yang akan kita lakukan , kita bisa menjadi
seseorang yang antagonis maupun protagonist
, semua itu berada di tangan kita , kita ingin jadi seperti pak karno
kah , atau terprosok dalam kesalahan yang mutlak layaknya wage, tak seorang pun
dapat memprediksi apa yang akan terjadi besok, minggu depan, atau tahun depan dan
seterusnya, kita sebagai manusia harus mencontoh sebuah panggung sandiwara ,
kita bisa memilih peran mana yang akan kita perankan, hidup di dunia hanya
sementara pikirku , ada permulaan pasti berakhir dengan perpisahan, laykanya ending dalam sebuah sinetron
Mifta
Khairoh lahir di bandung pada 14 september 1999,
alumni Man 2 Model Medan, sekarang
berkuliah di Uin Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil konsentrasi komunikasi
dan penyiaran islam, menulis dan traveling adalah hobinya.
No comments:
Post a Comment