Wednesday, January 3, 2018


Perjalanan Petang

Aku senang berjalan tiap petang hari , ketika matahari ingin tenggelam , senja sudah menyapa dari atas awan, serasa surga diatas kaki bukit , betapa indah ciptaan Allah , pohon berdiri tanpa ada yang menyangga, langit dan awan papah diatas, tanpa seorang pun yang menghambatnya , begitu benderangnya bintang setiap malam hari ia bersinar tanpa seorangpun yang memberikannya arus listrik, aku suka berjalan tiap sore hari mataku dapat melihat keindahan ciptaan Allah yang maha agung
            Ia terluntang lantung menjajalkan jasanya sebagai tukang sol sepatu, setiap hari ia lalu Lalang mengitari desaku, berharap seseorang memanggilnya dan memiliki masalah dengan sepatu mereka , bukan jahat atau berniat buruk pada seseorang , namun dari situlah pak sukarno mengais rezekinya , para warga sering menyebutnya dengan nama sukarno , bukan karena itu nama aslinya , melainkan karena hanya ia lah generasi masa kemerdekaan yang masih hidup , umurnya telah menginjak 89 tahun dan tahun depan ia genap memasuki kepala sembilan, alasan terbesar inilah mengapa warga desa memangggilnya dengan nama sukarno
            Ia tak memiliki sanak keluarga satupun , mereka semua telah tutup usia di usia yang tidak terlampau tua , tiga orang putranya tewas dalam insiden kecelakaan kereta manggarai tahun 2003 silam, sedangkan istrinya , sarinah ajeng , telah mendahului pergi meninggalkannya , sakit tua yang sudah kronis merenggut umurnya , ia tutup usia di pangkuan pak sukarno , sesaat setelah pak sukarno memandunya membacakan dua kalimat syahadat.
            Banyak dari warga desa yang iba terhadapnya , melihat ketabahan hati pak sukarno , walau ia telah tua dan renta, namun senyum yang melekat di wajahnya tak pernah pudar, setapak jalan ia kayuh dengan sepeda ontel zaman 45 an, sepeda yang sudah sangat usang bentuknya  , namun karena kemurnian hati yang ia miliki , tak Nampak guratan kelelahan yang ia perlihatkan saat mengitari desa . Aku bahkan tidak akan tahu alur cerita pak karno selanjutnya , apakah ia akan terus tabah    dengan keadaan atau malah mencercah sisa kehidupan yang ia miliki, semua ada ditangannya.
            Petang ini di atas kaki bukit, aku menelaah sepenggal kisah dari sang generasi pejuang kemerdekaan , tak seorangpun yang menyangka pak sukarno akan hidup melarat, hidup tua dan sebatang kara.
            Aku selalu mencercah nasib, mengapa aku dilahirkan dengan keadaan orangtua yang sama sekali tidak peduli dengan anaknya , ayah ku sibuk dengan urusan politik yang tak kunjung selesai ia jamahkan , sedangkan ibuku , asik mengurusi bisnis tas nya yang serba mahal, seharusnya aku harus lebih beryukur menelaah kehidupan , pak sukarno saja telaten menjajalkan untaian benang pada sepatu pelanggannya , semuanya ia kerjakan tanpa ada guratan ketidak ikhlasan dalam wajah lusuhnya
            Aku masih terus mengitari bukit sudah setengah jalan mataku asik jelalatan memandangi alam beserta seluruh benda yang ada di hadapanku ,

            Ia berbicara sesuka hatinya, berbicara tak karuan, bajunya lusuh compang camping, rambutnya gimbal, ku perkirakan sudah lama sekali ia tidak mencuci rambutnya, ia membenturkan kepalanya di dinding perbatasan kampung ku , tampak stress sekali ia , aku sempat bertanya dengan warga yang berada di sana , usut punya usut , dia dahulunya seorang politikus handal yang memiliki usaha sampingan yang tak kalah sukses , asset kekayaannya hingga berjumlah milyaran, namanya adalah wage , lelaki bertubuh berisi dengan perwatakan ala ala timur tengah , namun karena ia menjadi seperti sekarang , orang yang mengenalnya dulu tak akan mengenali wage yang sekarang  , begitu drastis perubahannya , mulai dari bentuk fisiknya hingga kewarasan jiwanya

   Aku menelan ludah mendengar cerita warga desa tadi , ternyata wage adalah lelaki sukses dulunya, namun karena ia kurang bersyukur , ia tak henti hentinya mencari sumber uang tak peduli dari mana asal uang tersebut, yang paling penting ia dapat mengais uang sebanyak banyaknya , naas , ternyata ia terjerat kasus pencucian uang , ditambah lagi investor bodong yang menggrogoti bisnisnya
Pikiranku mengarah pada profesi ayahku , dia seorang politikus yang mondar mandir setiap hari di kantor pemerintahan , setiap hari ia sibuk dengan dunianya, aku jadi khawatir dengan keadaannya namun, aku mencoba bepikiran positif dengan ayahku, ia tak mungkin bernasib sama layaknya wage, aku menjadi sadar, harus  mengingatkan ia ketika dunianya telah habis dengan urusan duniawi
            Sudah dua orang yang memenuhi benakku, melihat beragai macam manusia , namun perjalanan petang hari ini tidak berhenti hanya sampai cerita sang politikus tersebut.

            “Bunuh dia , Hancurkan” sahut pemuda gagah yang tengah menggenggam senjata tajam, ia mengarahkan seorang temannya untuk menyerang seorang gadis , tampak sangar wajah kedua pemuda itu , sementara sang gadis gelagap dengan wajahnya yang berlumur peluh, ia sudahtampak Lelah sekali
             “jangan beri ampun wahai pemuda kolot” pemuda dengan senjata tersebut tampak sudah tidak karuan  namun tampaknya ia akan mengarahkan senjata itu bukan kepada wanita berwajah gelagap tadi , melainkan kepada pemuda yang satu lagi , lelaki yang akan di bunuh tampak merencanakan siasat untuk menyergap wanita itu , keadaan semakin memanas ,serasa perang dunia ketiga akan tercipta ,
Aku menelan ludah hanya bisa bersembunyi , tidak ada orang lain yang melihat tiga orang yang saling bunuh membunuh, aku juga tidak tahu mengapa para kedua pemuda itu saling bertikai , namun sangat disayangkan gadis malang yang menjadi korban , aku mulai mencercah diri sendiri  , ingin sekali mendinginkan suasana ketiga orang tersebut , aku tidak tega melihat seorang gadis yang berbasib buruk itu , aku membayangkan jika ibukku ada di posisi gadis tersebut , sejenak , aku ingin menampakkan diri dan melakukan pembenaran
            “mengapa engkau berdiam diri disana , wahai anak muda?” tanya pemuda pemegang pistol tadi kepadku , nampaknya ia juga ingin membunuhku seperti yang akan dilakukannya pada temannya , aku dengan gelagat menghindar dan tak berkutat sedikit katapun , sepertinya perjalanan petang ini berakhir di genggaman senjata pemuda kasar itu.
“tenanglah wahai anak muda , kami hanya berlatih teater , semua adegan ini adalah sandiwara” imbuh sang gadis yang dari tadi sudah aku khawatirkan nasibnya
            Aku makin tak berkutat , sambil melontarkan sedikit tawa , layaknya ketika menonton sinetron dalam televisi terbawa emosi, walau ku tahu itu hanyalah sandiwara belaka
Lupakan saja , kebodohanku ini , yang bertemu dengan para pemain panggung yang handal , walau hanya sebuah latihan drama panggung , aku menilai sandiwara mereka sudah sepantaran dengan artis sinetron ibu kota , mulai dari mimik wajah dan talenta yang mereka miliki , buktinya saja aku percaya pada mulanya , apalagi melihat sang gadis yang benar benar akan berakhir hidupnya

            Perjalanan petang ini menyirat banyak pesan makna  ,mulai dari pak sukarno dengan ketabahannya , wage dengan keserakahannya dalam memiliki harta  , hingga tertipunya aku dengan drama panggung yang ku fikir benar terjadi
Ketika aku mengkaitkan ketiga kejadian tersebut , nampaknya kejadian terakhir yang menampar fikiranku, sebabnya setelah menelaah dan merenungkan  , aku jadi terhuyung dengan sandiwara yang diperankan oleh ketiga orang tersebut ,
Hidup di dunia bagaikan sebuah sandiwara panggung  kita bisa memilih apa yang akan kita lakukan , kita bisa menjadi seseorang yang antagonis maupun protagonist  , semua itu berada di tangan kita , kita ingin jadi seperti pak karno kah , atau terprosok dalam kesalahan yang mutlak layaknya wage, tak seorang pun dapat memprediksi apa yang akan terjadi besok, minggu depan, atau tahun depan dan seterusnya, kita sebagai manusia harus mencontoh sebuah panggung sandiwara , kita bisa memilih peran mana yang akan kita perankan, hidup di dunia hanya sementara pikirku , ada permulaan pasti berakhir dengan perpisahan, laykanya ending dalam sebuah sinetron






Mifta Khairoh lahir di bandung pada 14 september 1999, alumni Man  2 Model Medan, sekarang berkuliah di Uin Sunan Gunung Djati Bandung, mengambil konsentrasi komunikasi dan penyiaran islam, menulis dan traveling adalah hobinya. 

No comments:

Post a Comment